Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Minggu, 06 November 2011

Arafah dan Padang Makhsyar

Sabtu (05/11/2011) jutaan jamaah haji akan memadati Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf. Mereka akan melakukan ritual sakral yang merupakan rukun pelaksanaan ibadah Haji. Bersamaan dengan itu seluruh umat islam di dunia disunnahkan untuk melakukan puasa arafah.

Arafah sesungguhnya adalah tempat mu’tamar akbar, pertemuan tahunan seluruh kaum muslimin di dunia. Wukuf di arafah merupakan miniatur padang mahsyar dimana seluruh umat manusia akan dibangkitkan dari kematian dan berkumpul di tempat tersebut. tanpa membedakan status yang disandangnya para jamah haji akan berkumpul di sana.ada pejabat, ada konglomerat, tukang cat, tukang becak, petani, nelayan, dan lain sebagainya.

Dalam kitab-kitab disebutkan, Padang mahsyar diperkirakan Matahari berada tepat sejengkal di atas kepala. Hanya manusia yang banyak amal ibadahnya saja, yang mampu merasakan kesejukan di tengah panasnya padang mahsyar.
Di sana manusia harus mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan di hadapan Allah swt. perbuatan yang pernah dilakukan semasa hidupnya di dunia.

Wukuf di arofah seolah mengingatkan kita semua akan hari kebangkitan itu. Hari dimana manusia akan dibangkitkan dari kematiannya menuju alam yang kekal. Maka dari itu Sudah selayaknyalah manusia mempersiapkan diri untuk menyongsong hari pembalasan itu. Dengan berbuat baik, berbuat baik kepada sang pencipta (menjalankan Ibadah) dan berbuat baik sesama manusia, dengan bentuk kecil saling hormat-menghormati.
Pada hari itu pula di mana setiap manusia akan dihisap secara adil oleh Tuhan yang Maha Adil. Tidak ada sedikitpun kesalahan dalam prosesi penghisapan nanti. Keadilan betul-betul ditegakkan. Hukum tidak bisa dibeli oleh siapapun. Meskipun Gayus tambunan yang terkenal lihai dalam memafia hokum disana dia akan gigit jari. Begitu juag mafia-mafia lainnya.

Firman Allah “Barangsiapa berbuat kejahatan walaupun seberat "atom" maka dia akan mendapatkan balasannya. Begitu pula bila berbuat baik walaupun hanya sebesar "atom"maka diapun akan mendapat balasan.(Al-Qoriah)
Dhus, jangan pernah bersedih ketika kita sudah melakukan perbuatan baik di dunia dan patut untuk berbangga, karena Allah Maha Melihat dan Maha Adil. Besok di akhirat akan dibalas dengan pahala yang setimpal

Kembali ke “tema”, di Arafahlah jamaah haji digembleng dengan teriknya panas matahari yang hanya sejengkal diatas kepala itu. Asal mau bersabar dan selalu bertawakal. Insya Allah, Allah akan menjadikan mereka Haji yang Mabrur bukan Haji yang mabur (baca: terbang).

Jumat, 04 November 2011

Haji Cukup Sekali


Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban bagi muslim yang mampu. Mampu dari segi fisik maupun finansial. Serta mampu untuk memberikan sandang, pangan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Indonesia mayoritas penduduknya beragama islam. Tak heran jika fenomena yang terjadi saat ini adalah banyak orang sudah mampu dari segi fisik, finansialpun siap. Namun terkendala jangka waktu keberangkatan. Statistik Kementerian Agama menunjukan jangka waktu daftar tunggu mencapai 6 tahun bahkan lebih. Di jawa timur sendiri, harus menunggu sampai 10 tahun baru bisa berangkat. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya orang yang sudah pernah melaksanakan ibadah haji, kemudian kembali mendaftar. Akibatnya, ini akan menimbulkan resiko yang besar bagi Calon Jamaah Haji (CJH) yang nantinya akan berangkat, karena sudah mencapai lanjut usia.
Saya mengusulkan; alangkah baiknya pemerintah menghimbau bagi orang-orang yang sudah pernah bertandang ketanah suci tidak diperkenankan melaksanakan ibadah haji lagi. Beri kesempatan yang lain. Ini akan mengurangi resiko yang tidak diinginkan. Kita patut mencontoh Nabi Muhammad SAW yang selama hidupnya melakukan Haji hanya sekali meskipun punya kesempatan.

Kamis, 03 November 2011

Kurban dan Solidaritas Sosial**)

Tidak lama lagi umat islam akan merayakan Hari Raya Idul Adha. Idul Adha adalah hari penuh kemenangan besar. Dalam hari yang dirayakan kaum muslimin seluruh dunia itu terkandung nilai kepatuhan dan keikhlasan saat menjalankan perintah Allah SWT serta mengandung makna sosial yang tinggi.
Idul Adha merupakan wujud keikhlasan yang tidak tertandingi. Hari itu menjadi salah satu monumen terbesar umat manusia untuk menandai bahwa dalam membuktikan kepatuhan kepada Allah SWT, manusia harus ikhlas merelakan apapun yang paling berharga dalam hidup. Termasuk merelakan untuk berbagi kepada sesama.
Berbicara tentang Idul Adha tentu fikiran kita mengarah pada pelaksanan kurban (qurban). Ibadah ini disinyalir dalam Alqur-an dan Hadist sebagai bukti kepatuhan Nabi Ibrahim a.s akan perintah Tuhan-Nya untuk menyembelih putra tercintanya Ismail a.s.
Dekat dengan Allah, Dekat dengan Sesama
Dalam bahasa Arab, kurban (qurban) memiliki akar kata yang sama dengan qarib yang artinya 'dekat'. Dari sanalah istilah 'sahabat karib' dalam bahasa Indonesia berasal. Dalam konteks ini, kita membaca kurban sebagai usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mendekatkan diri dengan sesama manusia.
Pakar tafsir kontemporer, Abdullah Yusuf Ali dalam masterpicenya The Holy Qur’an; Translation and commentary, menjelaskan bahwa ibadah kurban memiliki makna spiritual dan dampak sosial yang tinggi. Kurban menjadi ungkapan kasih sayang, cinta dan simpati mereka yang berpunya kepada kaum papa. Kurban ini tidak sama dengan upacara persembahan agama-agama lain. Hewan kurban tidak kemudian dibuang dalam altar pemujaan dan tidak pula dihanyutkan di sungai, tetapi daging kurban dinikmati bersama dengan orang-orang miskin di sekitarnya.
Ulama besar Imam Al Ghazali jauh-jauh hari telah mengingatkan kita semua bahwa penyembelihan hewan kurban menyimbolkan penyembelihan sifat kehewanan manusia. Oleh karena itu, kurban semestinya bisa pula mempertajam kepekaan dan tanggungjawab sosial (social responsibility). Dengan menyisihkan sebagian pendapatan untuk berkurban diharapkan timbul rasa kebersamaan di masyarakat.
Kurban merupakan tindakan praksis sosial dari tauhid. Tuntunan kurban menggambarkan betapa luas dan beragam jalan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya dengan cara sangat personal, yaitu berupa zikir dan shalat tahajud di keheningan malam. Tetapi harus ada juga tindakan nyata berupa penyerahan sebagian harta untuk dibelikan hewan kurban yang  kemudian dibagikan kepada saudara kita yang membutuhkan. Keduanya sama pentingnya, sebagaimana dikiaskan dalam gerakan shalat, yang dimulai dengan mengagungkan nama Allah (takbiratulihram) dan dipungkasi dengan memberi salam menengok ke kanan dan kiri.
Mendekatkan diri kepada sesama manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah merupakan fondasi untuk menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil alamin). Islam akan menjadi rahmat apabila Islam mampu mewujudkan kedamaian dan kerukunan hidup berlandaskan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Sebaliknya, jika Islam yang hadir adalah Islam yang tidak dekat kepada sesama manusia, baik dalam usaha memperbaiki hidup maupun menjaga hidup bersama yang damai, kita masih belum komprehensif dalam mewujudkan misi dasar kita sebagai umat Islam.
Saya tertarik terhadap isi khutbah Shalat Idul Adha 1429 H yang disampaikan H.A.M.Romli Kepala Kanwil Departemen Agama Prov. Banten di alun-alun Kota Serang pada 8 Desember 2008 M. Ditegaskan bahwa lebih baik umat muslim memperhatikan warga miskin serta memperbaiki sarana ibadah dan pendidikan yang rusak, dari pada pergi haji dan umrah berkali-kali. Ada kecenderungan umat Islam ingin berhaji berulang kali, sementara di sekitar tempat tinggalnya banyak masalah kehidupan yang perlu segera diatasi. Sikap seperti itu dinilainya sebagai tidak mencontoh Nabi Muhammad yang hanya satu kali berhaji walaupun ada kesempatan berkali-kali (Tempointeraktif.com 8/12/2008). Isi ceramah Romli tersebut perlu dihayati dengan hati jernih karena disitulah letak hakekat perayaan Idul Adha, yaitu saling berbagi.
Membagikan daging kurban kepada kaum miskin hanyalah salah satu wujud harfiahnya, karena setelah daging kurban habis dikonsumsi, orang miskin kembali lagi ke habitatnya semula. Ada bentuk kepedulian sosial yang sifatnya lebih abadi. Hasil penelitian sebuah lembaga pemerintahan Arab Saudi menemukan angka dana untuk membiayai naik haji pertahunnya tidak kurang dari US$ 5 miliar. Jika dirupiahkan setara dengan Rp 50-an triliun uang yang dikeluarkan oleh umat muslim diseluruh dunia. Sebanding dengan itu, data Organisasi Pangan Dunia (FAO) melaporkan masih ada sekitar 830 juta orang Islam yang sangat miskin dan membutuhkan bantuan. Jika dana untuk penyelenggaraan ibadah haji (khususnya dana ibadah haji dari mereka yang sudah pernah naik haji) dimanfaatkan untuk membantu sesama muslim yang miskin tersebut, tentu kemiskinan di dunia akan lebih cepat teratasi.
Dua Dimensi
Dari sedikit penjelasan di atas, dapat difahami bahwa kurban memiliki makna yang luas dalam kehidupan, terutama dalam rangka meningkatkan solidaritas, kesetiakawanan sosial dan introspeksi. Paling tidak, ada dua dimensi yang ditekankan di sini, yaitu dimensi vertikal (hablum minallah) dan dimensi horisontal (hablum minannas). Kurban disyari’atkan sebagai bentuk kepatuhan, keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Hewan yang disembelih bukan berarti tumbal kepada sang pencipta (khaliq). Yang dipersembahkan kepada Allah, esensinya hanyalah ketakwaan. “lan yanalallah luhumuha wala dimauha, walakin yanaluhu al-taqwa”.
Sedangkan dimensi kedua, secara horizontal. Kurban sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kepekaan sosial terhadap sesama anak bangsa, khususnya kepada golongan yang lemah atau mereka yang dilemahkan (baca; didzhalimi) dan tertindas. Ibadah kurban pun mengajarkan kepada manusia untuk rela berkorban demi kepentingan yang lebih universal baik kepentingan agama, bangsa, maupun kemanusiaan.
Dipenghujung tulisan ini, menekankan bahwa ibadah kurban adalah manifestasi keimanan dan simbol perlawanan terhadap syetan dan hawa nafsu yang hadir lewat iming-iming harta dan kekuasaan. Mampukah kita “menyembelih” semua ujian itu guna mewujudkan kebersamaan serta membebaskan negeri ini dari keterpurukan. Dengan semangat solidaritas tentu hal itu akan mudah terwujud.

*)Wakil Ketua Aliansi Mahasiswa Bidikmisi (AMBISI) IAIN Sunan Ampel Surabaya


**)Artikel ini dimuat di Duta Masyarakat Edisi Senin, 07 November 2011 M

Jumat, 28 Oktober 2011

Satu Jam Bersama Bu Doktor


Sore itu sekitar pukul setengah tiga,tepatnya hari rabu, 26 oktober 2011 saya bersama temen berniat berkunjung kerumah dosen. Dosen ini berkediaman di perumahan Tirta Raya daerah Waru Sidoarjo. Saya bersama temen berkunjung kesana bertujuan, pertama, tentunya untuk silaturrahmi, ingin mengenal lebih dekat sosok ahli ilmu hukum tata Negara ini. Kedua, (ini adalah tujuan utama kami) mengambil buku karangan beliau yang dijadikan rujukan plus referensi bagi matakuliah yang beliau ampu.
Mata kuliah yang diampu oleh beliau dikelasku adalah hukum perdata 1. Mata kuliah yang bisa dibilang agak sulit, juga bisa dibilang sangat mudah jika kita mau serius mempelajari. Hukum perdata 1 adalah hukum yang mengatur hubungan/ kepentingan antara warga perseorang yang satu dengan warga perseorang yang lain. pokoknya intinya hokum yang menyangkut perseorangan dalam tanda kurung hokum privat.
Terlepas dari definisi tentang hukum perdata, saya ingin sedikit memberi informasi tentang sosok bu doktor ini. Memang setiap mata kuliah yang beliau ampu/ajar mahasiswa diwajibkan untuk memiliki buku yang berkaitan dengan mata kuliah itu. Entah itu buku karangan siapapun, pokoknya harus mempunyai buku referensi minimal satu buku. Walaupun tidak memaksa untuk memiliki bukunya,tetapi  beliau lebih memprioritaskan mahasiswa yang memliki buku karangannya. Dengar-dengar, pokoknya siapa yang punya buku karangannya pasti mendapat nilai lebih daripada mahasiswa lain yang tidak memiliki buku karangannya.
Terlepas dari itu, saya ingin bercerita apa saja yang terjadi selama kurang lebih satu jam dirumah itu. Pukul setengah tiga kira-kira, saya sampai didepan rumahnya, setelah sempat menyodorkan ke pak satpam sebuah kertas yang bertuliskan alamat rumah ibu doctor tersebut. Sesampai  di depan rumahnya langsung dipersilahkan untuk masuk. Saya kemudian masuk.
Sampai didepan pintu, fikiranku agak sedikit heran sekaligus kagum, Wow tumpukan buku yang berjajar rapi dilemari menghiasi ruang tamunya. Kabarnya itu adalah buku karangan sekaligus sebagai koleksi dari beliau.
Selanjutnya ditanya tentang maksud kedatanganku, langsung saja saya katakan saya mahasiswa ibu yang kemaren disuruh kerumah untuk mengambil buku. Dan kemudian berlanjut hingga ngobrol-ngobrol santai.
Setelah beliau memberikan bukunya (Kalau nggak salah dua puluh buku yang saya pesan untuk temen-temen). Kemudian berlanjut ke obrolan santai. Berawal dari pertanyanku, bagaimana bu kog bisa sampai seperti iniyang bisa menulis banyak buku, mendapat gelar doctor dan lain-lain?. jawabnya simple, beliau hanya menjawab  seng penting eleng karo seng nggae urip, dzikir, shalat malamnya rutin. Kalau ingin jadi orang sukses intinya itu. Hanya itu bu? Sahut saya. Ya tentunya diiringi dengan belajar, usaha dan kerja keras, serta mempunyai Ambisi/ obsesi untuk jadi orang besar.
Beliau menambahkan, “ kebanyakan orang-orang besar, orang sukses itu berasal dari orang-orang yang tidak mampu dari segi ekonomi”. Banyak fakta yang membuktikan orang-orang besar kebanyakan berasal dari anak keluarga kurang mampu. Contohnya beliau sendiri, beliau adalah anak dari keluarga tidak mampu, tetapi sekarang menjadi orang sukses.  Berkat kegigihannya dalam belajar, berjuang dan diringi dengan taqwa.
Ini yang menjadi motivasiku untuk terus maju, belajar, berusaha untuk mewujudkan mimpiku untuk menjadi orang besar, untuk menjadi orang sukses, fi diini, dunya, wal akhiroh..Amiiin.

Terima kasih Bu doktor…

Kamis, 27 Oktober 2011

Memaknai Hari Sumpah Pemuda


Hampir dapat dipastikan pada tanggal 28 oktober pemuda dengan romantisme sejarah sejak 83 tahun silam memperingati Hari Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda merupakan tonggak awal setelah berdirinya Budi Utomo yang disebut-sebut sebagai embrio kebangkitan bangsa.
Bagi bangsa Indonesia, Sumpah Pemuda merupakan entry point menuju pintu gerbang kemerdekaan Indonesia. Sumpah Pemuda tersebut merupakan bukti adanya kesamaan cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka dari cengkraman penjajah. Sumpah Pemuda adalah wujud keinginan untuk mempersatukan seluruh komponen masyarakat yang terdiri dari berbagai ragam dan kalangan, seperti halnya yang pernah diucapkan oleh Patih Gajahmada, dengan Sumpah Palapa untuk mempersatukan Nusantara. Oleh karena itu, sangatlah tepat jika Sumpah Pemuda itu menjadi fondasi dasar tercapainya kemerdekaan Indonesia.
Sumpah Pemuda yang seharusnya menjadi titik tolak perubahan kaum muda Indonesia, saat ini sudah mulai luntur. Sinyal-sinyal terang yang dulu berkobar saat ini sudah mulai redup. Tahun 1928 yang seyogyanya menjadi sebuah energi pergerakan yang tak pernah padam bagi para pemuda, saat ini hanya dijadikan sebuah kepura-puraan patriotisme dan nasionalisme.
Terbukti, seperti yang jamak diketahui saat ini, pemuda sekarang sudah tidak lagi peduli dengan bangsa. Tidak ada rasa simpati terhadap peliknya masalah yang dihadapi bangsa ini. Meskipun ada segelintir anak muda yang terus menyuarakan kegigihan dan aspirasinya untuk kemajuan Negeri ini.
Kebanyakan anak muda zaman sekarang tidak begitu memahami makna dari sumpah yang diikrarkan pemuda saat itu. Sepertinya anak muda sekarang cenderung acuh tak acuh terhadap masa lalu, ketika pemuda–pemudi Indonesia dulu bersatu mengikrarkan sumpah pemuda. Saat ini generasi muda bangsa ini justru cenderung melupakan makna Sumpah Pemuda itu.
Nilai-nilai persatuan dan kesatuan yang ditunjukkan para pemuda 83 tahun silam sudah tidak tergambarkan lagi saat ini. Seperti yang kita ketahui tidak lama ini, wilayah NKRI dicaplok negara tetangga, tetapi tidak ada tindakan nyata dari pemuda untuk mempertahankan. Aksi demonstrasi yang berunjung anarkis yang sering terjadi merupakan bukti nyata bahwa pemuda tidak lagi mampu memegang dan memaknai sumpahnya.
Demonstrasi sebenarnya juga memiliki sisi positif. Demonstrasi akan menunjukkan bahwa ada yang peduli dengan suatu masalah, bahwasanya akan ada yang bergerak untuk menuntut, tidak hanya diam dan menonton apa yang terjadi. Namun, disayangkan beberapa kali pernah terjadi demonstrasi seringkali dibarengi dengan tindakan anarkis dari para demonstran. Mulai dari perusakan fasilitas umum hingga baku hantam dengan aparat serta masih banyak tindakan anarkis lainnya.
Sudah seharusnya peringatan Sumpah Pemuda tidak sebatas dalam upacara seremonial sambil mengenang jasa para Pemuda Indonesia mempersatukan diri dalam sumpah untuk satunya Indonesia. Lebih jauh, pemuda saat ini haruslah mengambil makna mendalam dan menemukan inspirasi atas peristiwa bersejarah itu. Sejarah akan terus berulang untuk masa dan pejuang yang berbeda. Pemuda saat ini mempunyai potensi besar mengulang sejarah yang lebih monumental daripada sejarah pemuda dulu.
Sudah saatnya Indonesia mempunyai Pemuda dan pemudi yang akan meneruskan kepemimpinan Bangsa dengan menyatakan ulang sumpahnya untuk mempersatukan bangsa menjadi satu kesatuan yang tidak lagi dipisahkan. Penerus Bangsa yang harus meneruskan semangat perjuangan. Semangat berjuang untuk selalu membangun bangsa, semangat dalam kebersamaan memperkokoh kekuatan bangsa, semangat dalam mengharumkan nama bangsa Indonesia di mata dunia dengan torehan prestasi di berbagai kancah dunia. Satunya Indonesia, bukanlah sekedar ikrar, tetapi jauh merayapi setiap nurani pemuda dan rakyat Indonesia untuk kemudian melahirkan gerakan yang nyata
Sumpah pemuda adalah momentum dimana para pemuda bangsa kita di zaman dahulu berjuang untuk NKRI. Oleh karena itu saat ini kita harus selalu mengenang, menjaga dan menghormati jasa-jasa mereka. Yang terpenting adalah meneruskan perjuangan mereka di era yg modern ini, dengan hal-hal yang bersifat positif dan membangun bagi diri kita, keluarga, orang lain, bangsa dan negara.
Hemat kata, hakikat dari peringatan Hari Sumpah Pemuda adalah merenung, introspeksi diri, mengajak seluruh elemen masyarakat dan bangsa untuk mencontoh apa-apa yang sudah dilakukan pemuda dimasa silam, serta menumbuhkan jiwa nasionalisme yang semakin hilang, bukan hanya sebatas seremonial dan rutinitas belaka. Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia (bung karno).

Mengadopsi Keunikan Bali

Sabtu lalu, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke pulau Bali. Saya bertolak kesana bukan karena ada konferensi atau pertemuan, tetapi hanya sekedar rekreasi, me-refresh otak dari kepenatan yang setiap hari dicekoki oleh tumpukan buku demi menyelesaikan tugas kuliah. Siapa yang tidak mengenal pulau bali? Pasti semua mengetahui. Pulau Bali yang dikenal kepopulerannya sebagai “Paradise Island”. Hampir seluruh dunia mengetahui keunikan dan daya tarik dari pulau “Seribu Pura” ini. Bahkan tidak jarang yang mengatakan bahwa Bali adalah keindahan alam yang didengung-dengungkan sebagai “surga” dunia. Secepat kilat Balipun menjadi aset terbesar Indonesia di bidang pariwisata sebagai pemasok devisa negara.

Dalam perjalanan, saya menikmati berbagai macam keindahan alam pulau Bali. Mulai dari melihat berbagai bentuk patung, menikmati berbagai macam panorama pantai, mengunjungi obyek wisata bersejarah, sampai mengunjungi berbagai tempat untuk mencari buah tangan (oleh-oleh). Tidak hanya itu, saya juga disuguhi berbagai macam keunikan masyarakat disana. Salah satunya adalah arsitektur bangunan disana. Tidak ada bangunan yang tingginya melebihi tinggi pohon kelapa atau lebih tepatnya tidak ada bangunan yang tingginya lebih dari lima belas meter. Walaupun ada pasti akan diboikot oleh pemerintah bali karena melanggar Perda Bali No.3 Tahun 2005 Tentang tata ruang provinsi bali.

Anak Agung Bagus yang menjadi pemandu wisata (gaet) menjelaskan bahwa masyarakat Bali menjunjung tinggi rasa cinta terhadap alam atau lingkungan. Dengan tidak adanya bangunan yang tingginya melebihi pohon kelapa, sinar matahari bisa menyinari tanah bali secara keseluruhan. Sehingga alam bali tetap ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah). Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi bangunan di pulau Jawa khususnya di kota-kota metropolitan, yang mayoritas tinggi bangunannya lebih dari lima belas meter. Inilah yang menyebabkan pulau Jawa tidak lagi ASRI.

Tidak hanya itu, yang membuat saya kagum adalah tingginya rasa toleransi antarumat beragama. Meskipun masyarakat disana mayoritas memeluk agama Hindu tetapi jiwa menghargai agama lain sangatlah tinggi. Tidak ada rasa permusuhan dan tidak mengenal adanya perselisihan. Bahkan di kota Nusa Dua terdapat suatu tempat yang cukup unik, dan itu mungkin membuat kita mengacungkan kedua jempol tangan kita untuk masyarakat bali. Sebut saja Puja Mandala, Di tempat ini terdapat lima tempat ibadah dari agama yang diakui di Indonesia. Yaitu Masjid untuk agama Islam, Gereja bagi jemaat Katholik dan Protestan, Vihara untuk umat Budha, dan Pura bagi umat Hindu. Uniknya, bangunan tersebut berdiri berdampingan.

Meski berdampingan dengan tempat Ibadah umat lain, selama ini tidak pernah ada konflik yang disebabkan ketidakharmonisan antarsesama. Bahkan, jika ada kegiatan keagamaan dalam waktu yang bersamaan, umat disana saling berinteraksi satu sama lain untuk mempererat kerukunan. Kerukunan hidup dan suasana saling menghormati terlihat jelas dalam keseharian lingkungan komplek Puja Mandala Nusa Dua. Seperti yang dituturkan oleh Bli Bagus, komplek puja mandala ini merupakan percontohan miniatur kerukunan hidup bersama.

Keunikan yang baru satu-satunya di Indonesia ini merupakan kawasan yang dianggap sebagai contoh kerukunan umat beragama di Indonesia dan menjadi yang sangat diminati, baik oleh wisatawan asing ataupun domestik.

Untuk sampai ke tempat ini, kita butuh waktu sekitar tiga puluh menit dari Bandara Ngurah Rai ke arah Nusa Dua. Cobalah luangkan waktu sejenak untuk menikmati keunikannya dan belajar memahami kebudayaannya. Dengan mengaca dari kebudayaan masyarakat bali tersebut, sudah seharusnya kita tidak perlu mengenal adanya pertikaian agama seperti yang akhir-akhir ini kerap terjadi. Jika ada tenggang rasa dan kepedulian antarsesama tentu hal ini akan mudah terwujud.

Minggu, 16 Oktober 2011

Pengangguran Terdidik itu Muncul Lagi


Ribuan orang memadati lapangan IAIN Sunan Ampel Surabaya pada 08 Oktober 2011,  untuk melaksanakan proses pengukuhan sebagai sarjana. Tercatat pada wisuda yang ke-66 kali ini IAIN Sunan Ampel Surabaya mengukuhkan sekitar 1.233 Sarjana. Terdiri dar 1003 orang jenjang S1, 217 orang magister dan 13 orang dari program doktoral. Mereka telah resmi menyandang gelar akademis sebagai sarjana, magister dan doktor.
Wisuda merupakan pertanda bahwa seseorang sudah mampu menyelesaikan proses pendidikannya. Pendidikan merupakan sarana untuk mentransformasi kehidupan kearah yang lebih baik. Pendidikan pun dijadikan standar stratifikasi sosial seseorang. Orang yang berpendidikan akan mendapatkan penghormatan (prestice of life) dimata publik, walaupun tidak memiliki kekayaan yang berlimpah. Dengan pendidikan yang lebih tinggi pula, seseorang akan mudah untuk memperoleh pekerjaan. Apalagi jika seseorang telah memperoleh gelar sarjana.
Seorang sarjana tentunya lebih punya bekal ilmu dan pengetahuan yang luas. Lebih mantap dalam segi profesionalitas dan pengalamannya serta memiliki jiwa kepemimpinan yang matang. Seharusnya sarjana mampu membebaskan dari belenggu pengangguran. Namun apa boleh dikata, realita di lapangan berkata sebaliknya.
Pengangguran terdidik bagi para lulusan universitas sedikit banyak telah memperbesar angka pengangguran. Dari data Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) pada 22 Maret 2010, mencatat jumlah sarjana (SI) yang masih menganggur pada Februari 2007 sebanyak 409.900 orang. Setahun kemudian, jumlahnya bertambah menjadi 626.200 orang. Jika setiap tahun jumlah kenaikan rata-rata 216.300, kemungkinan pada Februari 2012 terdapat lebih dari 1 juta pengangguran terdidik di Indonesia.
Belum ditambah pengangguran lulusan Diploma. Dalam rentang waktu 2007-2010 saja tercatat peningkatan sebanyak 519.900 orang atau naik sekitar 57 persen. Di Jawa Timur misalnya, ada lebih dari 57 ribu orang dengan gelar sarjana menganggur, dari sekitar 1 juta orang di Jatim yang mengganggur.
Penggangguran terdidik memang telah memperburuk wajah suram dunia pendidikan kita. Para lulusan yang diharapkan mampu meminimalisir pengangguran ternyata tidak mampu menjawab tantangan zaman. Akibatnya, pengangguran makin lama makin bertambah. Bahkan Indonesia mendapat ranking pertama di Asia dalam kategori jumlah pengangguran tertinggi.
Meminjam Lirik lagu Bang Iwan Fals yang berjudul “Sarjana Muda”. Sepertinya sebagian besar dari sarjana yang baru diwisuda itu akan masuk dalam golongan sarjana yang diceritakan Iwan Fals dalam lagu Sarjana Muda itu. Bang Iwan menulis syair tentang seorang sarjana pintar (sesuai kriteria di atas) yang justru sulit untuk mendapat kerja, meski sudah berjalan gontai tak tentu arah, dengan mengandalkan ijazah yang berada ditangannya, sambil menatap awan berarak dengan wajah murung yang jelas terlihat. Sampai-sampai jaketnya lusuh bercampur keringat dan debu jalanan, hingga sarjana tadi putus asa dan berkata “maaf Ibu” karena merasa gagal membahagiakan sang ibu yang telah menyekolahkannya bertahun-tahun, namun tak juga mendapatkan pekerjaan.

Jumat, 07 Oktober 2011

Republika, Rabu 05 Oktober 2011

Kesaktian yang Hilang

Oleh Muhammad Ali Murtadlo
Penulis adalah kader IPNU
PKPT IAIN Sunan Ampel Surabaya

Pancasila tidak terlahir secara sistematis dan terencana. Pancasila sesungguhnya lahir dalam kondisi yang tergesa-gesa karena tuntutan waktu saat itu. Dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 di hadapan BPUPKI, Ir Soekarno mengatakan bahwa dasar filosofi itu tidak bisa dibicarakan dan dirancang dengan sistematis, komprehensif, dan rumit.

Menurutnya, bila dasar filosofis berdirinya suatu negara merdeka harus dipikirkan dengan matang dan sistematis, dalam kurung njelimet lebih dulu, maka bangsa itu sesungguhnya tidak akan pernah mencapai kemerdekaannya. Wawan Tunggul Alam (2001) memberikan pernyataan bahwa merdeka terlebih dahulu sebagai jembatan emas, di seberang jembatan emas kemerdekaan itulah masyarakat ini baru disempurnakan.

Senada dengan itu, Stanley Benn (1967) memberikan pandangan. Menurutnya, ada lima kriteria yang bisa digunakan untuk menentukan kenyataan suatu bangsa. Pertama, adanya kesatuan organisasi politik yang disebut 'negara' yang memiliki hukum dan sebagai badan pemberi hukum. Kedua, kesatuan bangsa didasarkan pada kesamaan bahasa dan budaya.

Ketiga, kesatuan bangsa didasarkan pada keterikatan masyarakat pada wilayah tertentu, yaitu tanah air. Keempat, kesatuan bangsa didasarkan pada pewarisan sejarah yang sama. Kelima, kesatuan bangsa didasarkan pada cita-cita bersama. Ada cita-cita positif untuk meniadakan penjajahan atas dirinya dan cita-cita untuk menghadirkan kesejahteraan bagi bangsa itu agar tidak dijajah lagi.

Kriteria yang dipaparkan Benn di atas telah dimiliki oleh bangsa Indonesia, walaupun masih ada beberapa pihak yang menyuarakan tuntutan pelurusan sejarah bangsa ini. Pancasila dalam pandangan penulis, sejalan dengan perspektif Benn, yakni adanya cita-cita positif yang tetap menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang bersatu sampai saat ini.

Apabila mencermati apa yang disampaikan oleh Ir Soekarno di atas, setidaknya ada semacam kejujuran epistimologis bahwa perumusan Pancasila sesungguhnya baru dimulai beberapa saat menjelang diproklamasikan kemerdekaan Indonesia. "Ketergesa-gesaan" karena tuntutan waktu itu menjadikan Pancasila hanya dapat dipandang sebagai suatu falsafah hidup (Weltanschauung) bukan sistem pengetahuan yang sistematis. Sebagai falsafah hidup, tentu saja Pancasila tidak bisa lagi diganggu gugat, tetapi masih bisa dikritisi dan didalami terus menerus maknanya, guna pencarian ide-ide kreatif dalam membangun bangsa sesuai tuntutan zaman.

Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa ini memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan peristiwa 'G30S/PKI'. Ketika tuntutan zaman telah berubah, saat itu kesaktian Pancasila dirongrong oleh orang-orang Komunis. Terbukti Pancasila mampu mempertahankan kesaktiannya dan tetap menjadi garda depan sebagai dasar negara.

Indonesia saat ini memang sedang mengalami 'sedikit' sakit. Dirongrong dari dalam oleh masalah yang ditimbulkan anak bangsa sendiri dan dari luar oleh ancaman bangsa lain. Mereka yang dikategorikan sebagai koruptor, perampok, pengacau keamanan, mafia pajak, mafia hukum dan peradilan, aksi terorisme, dan lain sebagainya, adalah sederetan rongrongan dari dalam.

Sengketa tapal batas negara, perlakuan terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI) di negara lain adalah bentuk-bentuk nyata penggerogotan dari luar. Tuntutan zaman inilah yang menuntut bangsa Indonesia harus bisa bertahan dan tidak boleh kalah walaupun telah digerogoti sedemikian rupa.

Dalam upaya bertahan untuk tetap menjadi bangsa itu, kita kadang lupa akan Pancasila. Jika kita melihat situasi saat ini yang terjadi di Indonesia, ketika sikap para pemimpin bangsa cenderung lebih merugikan rakyat, para pemimpin bangsa yang seharusnya memikirkan nasib rakyatnya malah memikirkan perutnya dengan melakukan praktik tak terpuji, yakni korupsi. Kemakmuran memang muncul, tetapi keadilan yang lebih prinsip dari kemakmuran itu belum terwujud.

Kemakmuran hanya menjadi monopoli pejabat dan segelintir kroni-kroni pejabat yang rakus dengan berbagai modus korupsinya. Sementara, masyarakat yang sepantasnya menikmati keadilan itu, terampas haknya karena ulah para koruptor. Menelaah pada realitas tersebut, pantaskah Pancasila masih dikatakan sakti?

Dalam pendekatan epistemologi pragmatis, suatu gagasan atau teori itu benar apabila dapat dikerjakan, dilakukan, dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari guna mengatasi masalah-masalah yang terjadi. Apabila gagasan atau teori itu tidak bermanfaat dalam upaya mengatasi masalah, maka kebenaran gagasan itu dapat dipertanyakan, dikritisi, dibongkar lagi. Atas dasar pendekatan itu, apakah gagasan-gagasan dalam Pancasila dapat diterima sebagai sesuatu yang benar karena dapat dikerjakan, dilakukan, dipraktikkan sebagai solusi terhadap masalah-masalah bangsa?

Memang, dalam sejarahnya, Pancasila disusun dengan tergesa-gesa. Namun, dalam perjalanan hidup berbangsa, cita-cita positif itu telah dimatangkan oleh masalah demi masalah yang dihadapi bangsa ini. Sudah saatnya bangsa ini memperluas pemikiran tentang arti kesaktian Pancasila yang tidak sekadar sakti terhadap rongrongan ideologi lain, tetapi juga sakti dalam mengatasi masalah konflik keagamaan, konflik kemanusiaan, terorisme, kemiskinan, dan masalah yang paling krusial, yakni korupsi.

Sudah saatnya bangsa ini membuktikan bahwa Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup harus benar-benar mampu menjadi solusi bagi permasalahan-permasalahan yang ada. Pancasila harus kembali menjadi sumber segala pengetahuan bagi upaya mempertahankan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat. Semoga bisa terwujud.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India